FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME
FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME
MAKALAH
MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN
OLEH KELOMPOK 2:
1. MUHAMMAD NUZLI
2. ZARGAWI
3. YUNI MARIANA

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PASCASARJANA UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat adalah ‘induk
ilmu pengetahuan’. Istilah filsafat telah dikenal manusia lebih dari 2000
tahun yang lalu, yakni pada masa Yunani kuno. Di Miletos, Asia Kecil, tempat perantauan
orang Yunani, di tempat inilah awal munculnya filsafat.[1]
Pendidikan merupakan
upaya pengembangkan potensi-potensi manusia selaku peserta didik baik potensi
fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan
dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Pendidikan bertujuan menyiapkan
pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis, guna mencapai
tujuan hidup kemanusiaan.
Perkembangan dan
perubahan yang terjadi dari zaman ke zaman memiliki corak dan ciri yang
berbeda. Kondisi ini cenderung memacu manusia untuk selalu berpikir mencari
nilai kebenaran itu. Namun, karena ada perbedaan cara pandang dalam menafsirkan
kebenaran tersebut, maka belum ada kesepakatan mengenai hakikat dan definisi
filsafat. Menurut Titus, Smith, dan Nolan (Jalaluddin dan Usman Said, 1994: 8),
perbedaan definisi ini paling tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi,
antara lain adat istadat, kebiasaan, dan sejarah.[2]
Peran filsafat
dalam dunia pendidikan adalah memberi kerangka acuan bidang filsafat pendidikan
guna mewujudkan cita-cita pendidikan yang diharapkan oleh suatu masyarakat atau
bangsa. Karena itu, tak heran bila filsafat pendidikan yang terdapat pada suatu
negara dipengaruhi oleh filsafat hidup yang menjadi panutan bangsa di negara
tersebut.
Filsafat pendidikan
merupakan terapan dari filsafat umum, maka dalam membahas filsafat pendidikan
akan berangkat dan filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan, pada dasarnya
menggunakan cara mengunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan
hasil-hasil dari filsafat yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang
realitas, pengetahuan, dan nilai.
Filsafat pendidikan
merupakan terapan dari filsafat sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka
dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran,
sekurang-kurangnya sebanyak aliran dalam filsafat itu sendiri. Menurut Sadulloh
(2007) bahwa aliran dalam filsafat pendidikan terdapat 9 aliran yaitu:
1. Filsafat pendidikan
idealisme.
2. Filsafat pendidikan realisme.
3. Filsafat pendidikan
materialisme.
4. Filsafat pendidikan
pragmatisme.
5. Filsafat pendidikan
eksistensialisme.
6. Filsafat pendidikan
progresivisme.
7. Filsafat pendidikan
esensialisme.
8. Filsafat pendidikan
perenialisme.
9. Filsafat pendidikan
rekontruksionisme.[3]
Dalam makalah ini
penulis tidak membahas seluruh aliran yang tersebut di atas, akan tetapi
penulis hanya membahas satu aliran saja yaitu aliran realisme.
B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian
di atas menurut hemat penulis yang menjadi pokok permasalah dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Apa itu aliran realisme?
2. Bagaimana bentuk filsafat
pendidikan realisme?
3. Bagaimana pendekatan realisme
pada pengetahuan?
4. Bagaimana tipe epistimologi
realisme?
C. Tujuan
Berdasarkan pokok
permasalahan di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini
adalah:
1. Untuk mengetahui aliran
realisme,
2. Untuk mengetahui bentuk
filsafat pendidikan realisme,
3. Untuk mengetahui pendekatan
realisme pada pengetahuan,
4. Untuk mengetahui tipe
epistimologi realisme.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Aliran Realisme
Pada dasarnya
realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme
berpendapat bahwa hakikat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani.[4]
Penganut aliran
realisme sependapat dengan penganut idealis bahwa nilai yang mendasar adalah
pada dasarnya permanen, tapi mereka berbeda diantara mereka sendiri dan alasan
mereka. Realis klasik pendapat dengan Aristoteles bahwa ada undang-undang moral
universal, tersedia untuk berbagai alasan dan mengikat pada seluruh rasional
manusia.
Realis sepakat
bahwa guru harus menjadi bagian dalam merumuskan nilai-nilai tertentu. Moral
dasar dan standar keindahan yang diajarkan pada siswa yang tidak berdampak pada
isu terkini. Anak-anak harus memahami secara jelas mengenai sifat dasar
kebenaran dan salah, memberikan perhatian pada tujuan yang baik dan indah
berdasarkan pada perubahan moral dan keindahan mode.
Pengetahuan yang
diperoleh melalui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini
memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan
baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke
generasi.[5]
Realisme membagi
realitas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu
pihak, dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat
dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia.
B. Bentuk Filsafat Pendidikan
Realisme
Realisme merupakan
aliran filsafat yang memiliki beraneka ragam bentuk. Kneller membagi realisme
menjadi dua bentuk, yaitu l) realisme rasional, 2) realisme naturalis.
1. Realisme rasional
Realisme rasional
dapat didefinisikan pada dua aliran, yaitu raelisme klasik dan realisme
religius. Bentuk utama dari realisme religius ialah "scholastisisme".
Realisme klasik ialah filsafat Yunani yang pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles,
sedangkan realisme religius, terutama “scholastisisme” oleh Thomas Aquina,
dengan menggunakan filsafat Aristoteles dalam membahas teologi gereja.
a. Realisme klasik
Realisme klasik
oleh Brubacher (1950) disebut humanisme rasional. Realisme klasik berpandangan
bahwa manusia pada hakikatnya memiliki ciri rasional. Dunia dikenal melalui
akal, dimulai dengan prinsip "self evident", di mana manusia dapat
menjangkau kebenaran umum. Self evidenr merupakan hal yang peting dalam filsafat
realisme karena evidensi merupakan asas pembuktian tentang realitas dan
kebenaran sekaligus. Self evident merupakan suatu bukti yang ada pada diri
(realitas, eksistensi) itu sendiri. Jadi, bukti tersebut bukan pada materi atau
pada realitas yang lain. Self evident merupakan asas untuk mengerti kebenaran
dan sekaligus untuk membuktikan kebenaran. Self evident merupakan asas bagi
pengetahuan artinya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam
pengetahuan atau kebenaran pengetahuan itu sendiri.
Pengetahuan tentang
Tuhan, sifat-sifat Tuhan, eksistensi Tuhan,
adalah bersifat self evidenl. Artinya, bahwa adanya Tuhan tidak perlu
dibuktikan dengan bukti-bukti lain sebab Tuhan itu self evident. Sifat Tuhan
itu Esa, artinya Esa hanya dimiliki oleh Tuhan tidak ada yang menyamainya
terhadap sifat Tuhan tersebut. Eksistensi Tuhan merupakan prima kausa, penyebab
pertama dan utama dari segala yang ada yakni merupakan penyebab dari realitas
alam semesta. Sebab, dari semua kejadian yang terjadi pada alam semesta. Tujuan
pendidikan bersifat intelektual. Memperhatikan intelektual adalah penting,
bukan saja sebagai tujuan, melainkan dipergunakan sebagai alat untuk memecahkan
masalah.
Bahan pendidikan
yang esensial bagi aliran ini yaitu pengalaman manusia. Yang esensial adalah
apa yang merupakan penyatuan dan pengulangan dari pengalaman manusia. Kneller
(1971) mengemukakan bahwa realisme klasik bertujuan agar anak menjadi manusia
bijaksana, yaitu seseorang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap
lingkungan fisik dan sosial., "For the classical realist the Trurpose of
education is enable the pupil to become an intellectually well-balanced person,
as against one who is symply well adjusted to the physical and social
emvironment".
Menurut pandangan Aristoteles,
manusia sempurna adalah manusia moderat yang mengambil jalan tengah. Pada anak
harus diajarkan ukuran moral absolut dan universal, sebab apa yang dikatakan
baik atau benar adalah untuk keseluruhan umat manusia, bukan hanya untuk suatu
ras atau suatu kelompok masyarakat tertentu.[6]
b. Realisme religius
Realisme religius dalam
pandangannya tampak dualistis. Ia berpendapat bahwa terdapat dua order yang
terdiri atas "order natural" dan "order supernalural".
Kedua order tersebut berpusat pada Tuhan. Tuhan adalah pencipta semesta alam dan
abadi. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri, guna mencapai
yang abadi. Kemajuan diukur sesuai dengan yang abadi tersebut yang mengambil
tempat dalam alam. Hakikat kebenaran dan kebaikan memiliki makna dalam
pandangan filsafat ini. Kebenaran bukan dibuat, melainkan sudah ditentukan, di
mana belajar harus mencerminkar kebenaran tersebut.
Menurut pandangan
aliran ini, stnrktur sosial berakar pada aristokrasi dan demokrasi. Letak
aristokrasinya adalah pada cara meletakkan kekuasaan pada yang lebih tahu dalam
kehidupan sehari-hari. Demokrasinya berarti bahwa setiap orang diberi
kesempatan yang luas untuk memegang setiap jabatan dalam struktur masyarakat. Hubungan
antara gereja dan negara adalah menjaga fundamental dasar dualisme antara order
natural dan order supernaturat. Moral pendidikan berpusat pada ajaran agama.
Pendidikan agama sebagai pedoman bagi anak untuk mencapai Tuhan dan akhirat.
Menurut realisme
religius, karena keteraturan dan keharmonisan alam semesta sebagai ciptaan
Tuhan, maka manusia harus mempelajari alam sebagai ciptaan Tuhan. Tujuan utama
pendidikan mempersiapkan individu untuk dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan adalah
mendorong siswa memiliki keseimbangan intelektual yang baik, bukan semata-mata penyesuaian
terhadap lingkungan fisik dan sosial saja.
Beberapa prinsip
mengajar yang dikemukakan oleh Comenius adalah sebagai berikut:
1) Pelajaran harus didasarkan
pada minat siswa. Keberhasilan dalam belajar tidak karena dipaksakan dari luar,
melainkan merupakan suatu hasil perkembangan dari dalam pribadinya,
2) Pada waktu permulaan belajar,
guru harus menyusun out-line secara garis besar dari setiap mata pelajaran,
3) Guru harus menyiapkan dan
menyampaikan informasi tentang garis-garis besar pelajaran sebelum pelajaran
dimulai, atau pada waktu permulaan pelajaran,
4) Kelas harus diisi dengan
gambar-gambar, peta, motto, dan sejenisnya yang berkaitan dengan rencana
pelajaran yang akan diberikan,
5) Guru menyampaikan pelajaran
sedemikian rupa, sehingga pelajaran merupakan suatu kesatuan. Setiap pelajaran
merupakan suatu keseimbangan dari pelajaran sebelumnya, dan untuk perkembangan
pengetahuan secara terus-menerus,
6) Apapun yang dilakukan guru,
hendaknya membantu untuk pengembangan hakikat manusia. Kepada siswa ditunjukkan
kepentingan yang praktis dari setiap sistem nilai,
7) Pelajaran dalam subjek yang
sama diperuntukkan bagi semua anak.[7]
2. Realisme naturalis Ilmiah
Realisme naturalis
ilmiah menyertai lahirnya sains di Eropa pada abad kelima belas dan keenam
belas, yang dipelopori oleh Francis Bacon, John Locke, Galilgs, David Hume,
John Stuart Mill, dan lain-lainnya.
Realisme natural
ilmiah mengatakan bahwa manusia adalah organisme biologis dengan sistem saraf
yang kompleks dan secara inheren berpembawaan sosial (social dispossition). Apa
yang dinamakan berpikir merupakan fungsi yang sangat kompleks dan organisme
yang berhubungan dengan lingkungannya. Kebanyakan penganut realisme natural
menolak eksistensi kemauan bebas (free will). Mereka bersilang pendapat dalam
hal bahwa individu ditentukan oleh akibat lingkungan fisik dan sosial dalam struktur
genetiknya. Apa yang tampaknya bebas memilih, kenyataannya merupakan suatu determinasi
kausal (ketentuan sebab akibat).
C. Pendekatan Realisme pada
Pengetahuan
Dalam hal ini,
terdapat beberapa pendekatan. Pertama, teori asosiasionisme. Teori ilmu
jiwa asosiasi ini dipengaruhi oleh filsafat empirisme John Locke. Pikiran atau
ide-ide dan isi jiwa adalah asosiasi unsur-unsur pengindraan dan pengamatan.
Penganut teori asosiasi juga menggunakan metode instrospeksi yang dipakai oleh
kaum idealis. Sedangkan asosiasi, menurut beberapa filsuf Inggris, adalah
gagasan atau isi jiwa itu terbentuk dari asosiasi unsur-unsur berupa kesan-kesan
atau tanggapan yang dapat diumpamakan sebagai atom-atom dari jiwa.
Kedua, teori
behaviorisme. Aliran ini berkesimpulan bahwa perwujudan kehidupan mental tercermin
pada tingkah laku, sebab manusia sebagai suatu organisme adalah totalitas mekanisme
biologis. Dengan demikian, usaha untuk memahami hidup mental seseorang berarti
harus memahami organisme. Pemahaman mengenai organisme ini berarti memasuki
lapangan neurologis, dengan demikian masalah ini tidak dapat dipisahkan dari
lapangan pengalaman.
Menurut
behaviorisme, masalah pengetahuan (yang dapat ditanggap oleh manusia) tidak
dapat dipisahkan dari proses penanaman kondisi. Untuk itu, dikembangkanlah teori
sarbon Suatu penghayatan kejiwaan terdiri dari proses yang paling sederhana
yang terdiri dari rangsangan (stimulus) dari luar (pribadi seseorang), yang
disambut dengan tanggapan tertentu (respons). Respons dan tanggapan menjadi
suatu kesatuan (sarbon). Proses selanjutnya, peristiwa kejiwaan akan saling
berhubungan antara unsur-unsur dalam berbagai bentuk dan cara yang disebut assosianism.
Ketiga, teori
koneksionisme. Teori ini
menyatakan semua makhluk, termasuk manusia, terbentuk (tingkah lakunya) oleh
pola-pola hubungan-hubungan antara stimulus dan respons. Dan manusia dalam
hidupnya selalu membentuk tata jawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah
hubungan antara stimulus dan respons. Dengan demikian, terjadi
gabungan-gabungan hubungan stimulus dan respons yang selalu menunjukkan
kualitas yang tinggi-rendah atau kuat-lemah. Di samping dapat menggabungkan
pandangan asosianisme dan behaviorisme, koneksionisme juga dapat menunjukkan
bahwa dalam hal belajar perasaan yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan
terhadap berhasil tidaknya belajar yang dilakukan.[8]
D. Tipe Epistimologi Realisme
Ada beberapa tipe
epistemologi realisme. Di Amerika ada dua tipe yang utama. Pertama, neorealisme.
Secara psikologis, neorealisme lebih erat dengan behaviorisme. Baginya pengetahuan
diterima, ditangkap langsung oleh pikiran dunia realita. Itulah sebabnya
neorialisme menafsirkan badan sebagai respons khusus yang berasal dari luar
dengan sedikit atau tanpa adanya proses intelek. Kedua, critical realisme,
aliran ini menyatakan bahwa media antara intelek dengan realita adalah seberkas
pengindraan dan Pengamatan.[9]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di
atas, maka dapat penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Aliran Realisme,
Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas
ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani.
2. Bentuk Filsafat Pendidikan
Realisme
Realisme mempunyai dua bentuk, yaitu
a. Realisme rasional,
Realisme rasional dapat didefinisikan
pada dua aliran, yaitu raelisme klasik dan realisme religius. Bentuk utama dari
realisme religius ialah "scholastisisme". Realisme klasik ialah
filsafat Yunani yang pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles, sedangkan
realisme religius, terutama “scholastisisme” oleh Thomas Aquina, dengan menggunakan
filsafat Aristoteles.
b. Realisme naturalis
Realisme natural ilmiah adalah organisme
biologis dengan sistem saraf yang kompleks dan secara inheren berpembawaan
sosial (social dispossition).
3. Realisme rasional
Pertama, teori
asosiasionisme. Teori ilmu jiwa
asosiasi ini dipengaruhi oleh filsafat empirisme John Locke. Pikiran atau
ide-ide dan isi jiwa adalah asosiasi unsur-unsur pengindraan dan pengamatan.
Kedua, teori behaviorisme. Aliran ini berkesimpulan bahwa perwujudan
kehidupan mental tercermin pada tingkah laku, sebab manusia sebagai suatu
organisme adalah totalitas mekanisme biologis.
4. Tipe Epistimologi Realisme
Ada beberapa tipe epistemologi
realisme, pertama neorealisme. Secara psikologis, neorealisme lebih erat
dengan behaviorisme. Baginya pengetahuan diterima, ditangkap langsung oleh
pikiran dunia realita. Kedua, critical realisme, aliran ini menyatakan
bahwa media antara intelek dengan realita adalah seberkas pengindraan dan
Pengamatan.
B. Penutup
Penulis meyakini
bahwa tulisan ini belumlah mencapai tingkat kesempurnaan dari yang diharapkan,
untuk itu diharapkan kritik dan saran yang konstruk, dan semoga bermanfaat bagi
pembaca yang budiman dan bagi penulis pada khususnya, amin.
Jambi, 17 Oktober 2009
Penulis,
DAFTAR PUSTAKA
http://www.FeedFury.com/filsafatpendidikan.html, diakses
pada 13 Nopember 2009 jam 05.00 WIB
Jalaluddin &
Idi Abdullah (2007), Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat dan Pendidikan.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,
Kattsoff, Lois O. (2004),
Pengantar Filsafat, Alih Bahasa oleh Soemargono Soejono, Cet. IX. Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya
Sadulloh, uyoh.
(2007), Pengantar Filsafat Pendidikan, Cet. IV . Bandung: Alfabeta
[1] Kattsoff
Lois O. Pengantar Filsafat, Alih Bahasa oleh Soemargono Soejono, Cet. IX. (Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya, 2004) h. vii
[2] Jalaluddin
& Idi Abdullah. Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat dan Pendidikan.
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) h. 13
[9] Ibid, 105
Komentar
Posting Komentar